Selamat Pagi :)
Saya ingin bercerita apa yang saya alami dengan gigi dan cincin. Mengapa gigi dan cincin? Lanjut baca, yuk!
Saya punya gigi yang bertambal besar, karena dahulu lobang cukup besar. Gigi itu telah dikikis sedemikian rupa oleh dokter gigi, demi menempelkan tambalan. Sudah bertahun-tahun saya hidup dengan gigi itu, dan saya menambah kekuatan gigi dengan banyak makan makanan berkalsium.
Suatu hari, gigi itu terasa tajam.
Ia menggores-gores dinding mulut bagian dalam. Rasanya tidak enak seperti sariawan. Saya pikir, jangan-jangan gigi ini terkikis karena sudah terlalu lama dengan tambalan. Apakah kalsium yang saya makan tidak cukup? Saya berniat pergi ke dokter gigi.
Tetapi, seorang sahabat mengatakan kepada saya, bahwa sayalah yang sedang dalam keadaan tidak sehat. Bukan gigi saya yang jadi tajam. Saya tidak percaya, tapi dia yakinkan saya, bahwa sebelumnya gigi itu tidak apa-apa, mungkinkah bisa terasa tajam tiba-tiba?
Saya berpikir, waktu itu saya sedang capek. Sedang ada pekerjaan kantor yang mengharuskan saya bepergian jauh dan kurang tidur. Seminggu setelah itu, gigi saya "menumpul" kembali! Sama tumpulnya dengan rasa sehat badan saya, karena saya bisa banyak beristirahat dan cukup tidur.
Beberapa hari kemudian, udara di kota tempat tinggal saya tiba-tiba menjadi dingin sekali, seperti beku. Tangan saya berkeriput dan seakan-akan susut sehingga cincin di jari saya terasa lebih longgar. Penyusutan karena kedinginan sih wajar saja, tapi mengapa cincin saya terasa tajam?
Saya amati tangan saya. Keriput dan kering. Kulitnya dalam kondisi yang tidak sehat. Wajar saja cincinnya terasa tajam. Setelah saya gunakan pelembab yang manjur untuk kulit kering, kulit saya jadi lebih halus dan lentur. Cincin itu tidak lagi terasa tajam!
Karena peristiwa gigi dan cincin, saya jadi teringat ungkapan-ungkapan "kata-kata tajam" untuk mendeskripsikan ucapan orang lain yang terasa sakit di hati kita. Tentu saja, hati yang dalam kondisi tidak sehat akan merasa ucapan orang lain tajam, sehingga diri kita mudah tersinggung.
Sebelum kita membuat bingung orang lain dengan pernyataan "kata-katamu sungguh tidak enak didengar", sudahkah kita melihat dulu ke dalam hati kita, sedang sehatkah hati kita?
Hati yang sehat akan lebih kebal terhadap kata-kata tajam. Hati yang sehat akan lebih bisa membiarkan pikiran membahas arti kata-kata tersebut dengan tepat, tanpa distorsi arti-arti tambahan.
Tentu saja kalau kita ada di pihak yang dianggap berkata tajam, maka kita lebih bisa memahami dan tidak merasa bingung. Bisa saja orang yang menganggap tajam itu lagi dalam keadaan tidak sehat.
Sekian dulu. :)
Saya ingin bercerita apa yang saya alami dengan gigi dan cincin. Mengapa gigi dan cincin? Lanjut baca, yuk!
Saya punya gigi yang bertambal besar, karena dahulu lobang cukup besar. Gigi itu telah dikikis sedemikian rupa oleh dokter gigi, demi menempelkan tambalan. Sudah bertahun-tahun saya hidup dengan gigi itu, dan saya menambah kekuatan gigi dengan banyak makan makanan berkalsium.
Suatu hari, gigi itu terasa tajam.
Ia menggores-gores dinding mulut bagian dalam. Rasanya tidak enak seperti sariawan. Saya pikir, jangan-jangan gigi ini terkikis karena sudah terlalu lama dengan tambalan. Apakah kalsium yang saya makan tidak cukup? Saya berniat pergi ke dokter gigi.
Tetapi, seorang sahabat mengatakan kepada saya, bahwa sayalah yang sedang dalam keadaan tidak sehat. Bukan gigi saya yang jadi tajam. Saya tidak percaya, tapi dia yakinkan saya, bahwa sebelumnya gigi itu tidak apa-apa, mungkinkah bisa terasa tajam tiba-tiba?
Saya berpikir, waktu itu saya sedang capek. Sedang ada pekerjaan kantor yang mengharuskan saya bepergian jauh dan kurang tidur. Seminggu setelah itu, gigi saya "menumpul" kembali! Sama tumpulnya dengan rasa sehat badan saya, karena saya bisa banyak beristirahat dan cukup tidur.
Beberapa hari kemudian, udara di kota tempat tinggal saya tiba-tiba menjadi dingin sekali, seperti beku. Tangan saya berkeriput dan seakan-akan susut sehingga cincin di jari saya terasa lebih longgar. Penyusutan karena kedinginan sih wajar saja, tapi mengapa cincin saya terasa tajam?
Saya amati tangan saya. Keriput dan kering. Kulitnya dalam kondisi yang tidak sehat. Wajar saja cincinnya terasa tajam. Setelah saya gunakan pelembab yang manjur untuk kulit kering, kulit saya jadi lebih halus dan lentur. Cincin itu tidak lagi terasa tajam!
Karena peristiwa gigi dan cincin, saya jadi teringat ungkapan-ungkapan "kata-kata tajam" untuk mendeskripsikan ucapan orang lain yang terasa sakit di hati kita. Tentu saja, hati yang dalam kondisi tidak sehat akan merasa ucapan orang lain tajam, sehingga diri kita mudah tersinggung.
Sebelum kita membuat bingung orang lain dengan pernyataan "kata-katamu sungguh tidak enak didengar", sudahkah kita melihat dulu ke dalam hati kita, sedang sehatkah hati kita?
Hati yang sehat akan lebih kebal terhadap kata-kata tajam. Hati yang sehat akan lebih bisa membiarkan pikiran membahas arti kata-kata tersebut dengan tepat, tanpa distorsi arti-arti tambahan.
Tentu saja kalau kita ada di pihak yang dianggap berkata tajam, maka kita lebih bisa memahami dan tidak merasa bingung. Bisa saja orang yang menganggap tajam itu lagi dalam keadaan tidak sehat.
Sekian dulu. :)
2 comments:
Hahaha.. mungkin karena ada kata "cincin"-nya maka pas pertama baca tuh gua lagi menunggu2 mana bahasan soal pernikahan, hahaha..
Postingan yang menarik..
Jadi sebenarnya ngga bisa dibilang bahwa omongan seseorang itu tajam dan melukai donks? Karena ketika kita terluka dengan perkataan orang itu artinya kita yang sedang dalam keadaan ngga sehat?
Bagaimana dengan kata2 kasar dan penuh caci maki? Tidakkah itu juga menunjukkan hati yang ngga sehat dari orang yang mengucapkan kata2 tersebut?
Iya, pencaci maki juga menunjukkan hati yang gak sehat. Tapi kalau hati sehat, ibarat kulit dan cincin/gigi tadi, maka tidak akan merasakan tajamnya kata-kata orang lain. Atau jika benar-benar tajam seperti pisau, maka akan sembuh dengan cepat.
Yang saya soroti adalah kata-kata yg sebetulnya tidak tajam (dalam keadaan normal tidak menggores seperti halnya cincin dan gigi), tapi jadi terasa tajam karena sedang tidak sehat :)
Post a Comment