Selamat Sore :)
Saya ingin membahas soal hati yang tidak sehat seperti yang pernah saya bahas di tulisan saya sebelumnya. Dalam tulisan itu, sepertinya mengumpamakan hati sehat yang kebal kata-kata tajam kok mudah sekali. Padahal, menurut pengalaman saya, hati yang benar-benar sehat (tidak terbelenggu secara emosional) akan mampu menghadapi kata-kata setajam apapun.
Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang ibu tua (umur 60-an) yang berprofesi sebagai dokter psikiater. Sebagai seorang psikiater, dia menghadapi berbagai macam orang
yang karena masalahnya mengalami depresi dan gejala kejiwaan lain. Banyak dari orang yang dia hadapi itu walaupun orang yang kuat mental tapi bisa sakit jiwa yang berasal dari sakit hati karena beban-beban hidup yang dihadapi.
yang karena masalahnya mengalami depresi dan gejala kejiwaan lain. Banyak dari orang yang dia hadapi itu walaupun orang yang kuat mental tapi bisa sakit jiwa yang berasal dari sakit hati karena beban-beban hidup yang dihadapi.
Ibu dokter itu mengatakan, bahwa jiwa kita ibarat jembatan. Dia pernah membaca sebuah kisah lama. Kisah itu adalah tentang sebuah jembatan. Jembatan itu dibangun dengan kuat dan kokohnya, sehingga warga desa menggunakannya secara berlebihan. Selain menjadi transportasi umum seperti lewatnya kereta-kereta kuda, ada juga orang yang membawa rombongan gajah. Lama kelamaan, si jembatan menjadi rapuh, tidak kuat lagi, tapi tidak ada warga desa yang menyadari.
Pada suatu hari, terbanglah seekor nyamuk melintasi jembatan itu. Si nyamuk kelelahan dan ia hinggap di jembatan itu. Persis ketika si nyamuk itu hinggap, si jembatan runtuh! Si nyamuk terkejut dan kembali terbang mencari tempat hinggap yang lain. Seluruh warga desa juga terkejut. Mereka semua bertanya-tanya mengapa jembatan yang kuat kokoh itu bisa runtuh? Mereka semua mencari-cari apakah penyebab jembatan itu runtuh? Dan hasilnya: tidak ketemu! Karena si nyamuk entah sudah pergi ke mana.
Si nyamuk, adalah ibarat peristiwa kecil yang begitu mudah terbang lagi, yang seharusnya tidak perlu menyakiti hati kita. Si nyamuk adalah ibarat kata-kata tajam seseorang yang seharusnya bisa kita abaikan jika hati kita sehat. Tetapi, hanya karena si nyamuklah diri kita bisa runtuh. Hanya karena suatu peristiwa kecillah hati bisa sakit sekali sehingga menekan jiwa.
Kita sebagai manusia, punya beban yang terbatas. Sama seperti jembatan itu, jiwa kita tidak boleh menerima beban berlebihan. Ketika kita mengalami tekanan-tekanan baik kegagalan bekerja maupun perlakuan orang lain terhadap kita, sebaiknya kita mencari penyeimbang, dengan fokus pada kelebihan kita dan mengisi waktu bersama orang-orang yang sayang dan mendukung diri kita.
Tentu saja banyak manusia yang tidak bisa menyempatkan untuk menyeimbangkan kondisi hati, karena ada kalanya kita terjebak oleh situasi. Anak-anak misalnya, adalah manusia yang paling tak berdaya jika berada dalam situasi yang menekan jiwa mereka. Tugas orangtualah untuk menyeimbangkan kehidupan anak-anaknya masing-masing, sehingga ketika mereka dewasa kelak mereka akan menjadi manusia-manusia dengan pribadi-pribadi kuat.
Kalau kita sudah keburu jadi dewasa, atau kalau kita mengalami masa kecil yang baik-baik saja tapi punya masa dewasa yang penuh tekanan? Menurut pengalaman saya, kita punya pilihan. Untuk keluar dari suatu situasi sejenak, demi menyeimbangkan hidup kita sendiri.
Jangan lupa untuk selalu mengerjakan hal-hal yang kita senangi, untuk selalu saling menyayangi dengan orang-orang yang juga sayang (mendukung, positif) pada diri kita.
Jika kita tidak mampu keluar dari situasi yang terus-menerus membebani diri kita? Tentu saja kita berhak minta tolong pada orang lain. Di dunia ini selalu ada manusia-manusia yang siap menolong. Jika kita percaya Tuhan, berharaplah Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita.
Semoga kita selalu mempunyai waktu-waktu untuk memperkuat jembatan-jembatan kita dengan beristirahat untuk menambah semen, paku, beton, baja, pilih saja! :)
2 comments:
perumpamaan yang bagus banget... Gue jadi inget film lama PRETTY WOMAN... Kalau org udah lama mendapat perlakuan dan kata2 buruk, maka ia akan merasa ia memang seperti itu dan pantas diperlakukan buruk... Ia mencoba bertahan tapi akan ada suatu saat ketika hal kecil begitu menusuknya sehingga ambrol lah pertahanan itu
Thanks buat cerita film-nya!
Post a Comment