Selamat Malam :)
Saya sedang dalam proses membaca sebuah buku menarik, yang menceritakan tentang bagaimana manusia bisa menjadi tidak bisa berfungsi dengan baik (disfungsi), dikarenakan adanya hambatan-hambatan di masa kecil yang tidak terbantu perkembangannya oleh orangtua masing-masing. Penggunaan kata disfungsi ini adalah untuk menyatakan bahwa disfungsi bukan berarti tidak normal. "Normal" berarti "pada umumnya", sementara secara umum banyak manusia yang mengalami disfungsi pada hal-hal tertentu.
Tidak perlu kecewa jika kita adalah manusia yang mempunyai disfungsi, karena
justru dengan mengetahuinya kan kita jadi bisa mencari solusi untuk membuat diri kita lebih bisa berfungsi dengan baik. Manusia yang berfungsi dengan baik adalah tanda-tanda manusia yang kedewasaannya tercapai dengan baik, tidak terhambat di masa kanak-kanak. Sementara itu, orangtua kita bukanlah manusia sempurna yang bisa membesarkan kita dulu tanpa kesalahan.
Tanda-tanda manusia yang tumbuh dengan baik adalah *tidak memiliki* 5 hal di bawah ini:
1) Punya rasa rendah diri, atau tinggi diri.
Rasa rendah diri yang teramat sangat misalnya ketidakmampuan mengakui kebenaran pendapat orang lain. Ketika kita membuat makanan untuk orang lain dan orang itu mengatakan kurang asin, maka kita merasa gagal sebagai tukang masak, padahal solusinya mudah: tinggal menambah garam. Sedangkan rasa tinggi diri yang teramat sangat misalnya ketidakmampuan untuk berempati jika sedang berada di atas.
2) Tidak bisa membuat batas diri dengan baik.
Batas diri bisa tidak ada sama sekali, atau bisa keras sekali seperti tembok. Ketika kita tidak bisa membuat batas diri, kita bisa jadi orang yang tidak sadar ketika diinjak-injak atau disakiti oleh orang lain. Di satu sisi, jika ada teman yang sedang sedih, kita juga bisa dengan mudahnya ikut sedih. Jika batas diri kita berkembang seperti tembok, maka kita mudah menempatkan orang lain di luar diri kita, hanya karena ada hal pada orang lain itu yang tidak kita sukai. Tembok-tembok itu adalah marah (mengancam), takut (menghindar), hanya mau didengar (tidak mempedulikan kata-kata orang lain), dan diam (ogah berkata-kata untuk menunjukkan isi pikiran).
3) Tidak bisa melihat sisi tengah.
Jika tidak mampu melihat sisi tengah, maka yang ada hanyalah dua sisi ekstrim. Misalnya bereaksi terlalu empati atau terlalu cuek, bereaksi terlalu marah atau terlalu sedih, dll.
4) Tidak bisa melihat realitas.
Jika tidak mampu melihat realitas, maka yang terlihat adalah ilusi. Ada dua tingkatan, di mana tingkatan yang ringan adalah dalam hal pikiran, dan tingkatan yang berat adalah dalam hal ketidakmampuan mutlak. Dalam hal pikiran, misalnya kita lupa memberi makan kucing tapi mengaku tidak ingat sudah memberi makan atau belum, kepada orang yang mempertanyakan keberadaan si kucing. Dalam hal ketidakmampuan mutlak, misalnya pada orang yang terkena penyakit anorexia, di mana dirinya merasa masih gemuk padahal jelas-jelas dirinya sudah sangat kurus.
5) Tidak bisa membedakan keinginan dan kebutuhan.
Kebutuhan hidup manusia sebetulnya kan sama: kesehatan, kebahagiaan, keindahan, kenyamanan, dll. Tetapi, keinginan manusia bermacam-macam: ingin baju bagus, ingin mobil bagus, ingin hp bagus, ingin makanan kesukaan, dll. Jika tidak bisa membedakan keinginan dan kebutuhan, maka kehidupan kita bisa menjadi kacau, tapi kita merasa baik-baik saja. Misalnya kamar seperti kapal pecah tapi diisi dengan barang-barang lucu dan baju-baju bagus, atau tubuh sakit-sakitan tapi bukannya makan makanan bergizi melainkan terus memakan yang disuka saja walaupun membuat tetap sakit.
Sekian dulu rangkuman dari apa yang saya baca di awal buku itu. Lain kali saya ceritakan sedikit demi sedikit apa penyebabnya sehubungan dengan proses tumbuh kembang dan pendidikan orangtua. Dan tentu saja saya juga ingin membagi solusinya supaya kita bisa hidup nyaman sebagai manusia dewasa.
Selamat merenung :)
Saya sedang dalam proses membaca sebuah buku menarik, yang menceritakan tentang bagaimana manusia bisa menjadi tidak bisa berfungsi dengan baik (disfungsi), dikarenakan adanya hambatan-hambatan di masa kecil yang tidak terbantu perkembangannya oleh orangtua masing-masing. Penggunaan kata disfungsi ini adalah untuk menyatakan bahwa disfungsi bukan berarti tidak normal. "Normal" berarti "pada umumnya", sementara secara umum banyak manusia yang mengalami disfungsi pada hal-hal tertentu.
Tidak perlu kecewa jika kita adalah manusia yang mempunyai disfungsi, karena
justru dengan mengetahuinya kan kita jadi bisa mencari solusi untuk membuat diri kita lebih bisa berfungsi dengan baik. Manusia yang berfungsi dengan baik adalah tanda-tanda manusia yang kedewasaannya tercapai dengan baik, tidak terhambat di masa kanak-kanak. Sementara itu, orangtua kita bukanlah manusia sempurna yang bisa membesarkan kita dulu tanpa kesalahan.
Tanda-tanda manusia yang tumbuh dengan baik adalah *tidak memiliki* 5 hal di bawah ini:
1) Punya rasa rendah diri, atau tinggi diri.
Rasa rendah diri yang teramat sangat misalnya ketidakmampuan mengakui kebenaran pendapat orang lain. Ketika kita membuat makanan untuk orang lain dan orang itu mengatakan kurang asin, maka kita merasa gagal sebagai tukang masak, padahal solusinya mudah: tinggal menambah garam. Sedangkan rasa tinggi diri yang teramat sangat misalnya ketidakmampuan untuk berempati jika sedang berada di atas.
2) Tidak bisa membuat batas diri dengan baik.
Batas diri bisa tidak ada sama sekali, atau bisa keras sekali seperti tembok. Ketika kita tidak bisa membuat batas diri, kita bisa jadi orang yang tidak sadar ketika diinjak-injak atau disakiti oleh orang lain. Di satu sisi, jika ada teman yang sedang sedih, kita juga bisa dengan mudahnya ikut sedih. Jika batas diri kita berkembang seperti tembok, maka kita mudah menempatkan orang lain di luar diri kita, hanya karena ada hal pada orang lain itu yang tidak kita sukai. Tembok-tembok itu adalah marah (mengancam), takut (menghindar), hanya mau didengar (tidak mempedulikan kata-kata orang lain), dan diam (ogah berkata-kata untuk menunjukkan isi pikiran).
3) Tidak bisa melihat sisi tengah.
Jika tidak mampu melihat sisi tengah, maka yang ada hanyalah dua sisi ekstrim. Misalnya bereaksi terlalu empati atau terlalu cuek, bereaksi terlalu marah atau terlalu sedih, dll.
4) Tidak bisa melihat realitas.
Jika tidak mampu melihat realitas, maka yang terlihat adalah ilusi. Ada dua tingkatan, di mana tingkatan yang ringan adalah dalam hal pikiran, dan tingkatan yang berat adalah dalam hal ketidakmampuan mutlak. Dalam hal pikiran, misalnya kita lupa memberi makan kucing tapi mengaku tidak ingat sudah memberi makan atau belum, kepada orang yang mempertanyakan keberadaan si kucing. Dalam hal ketidakmampuan mutlak, misalnya pada orang yang terkena penyakit anorexia, di mana dirinya merasa masih gemuk padahal jelas-jelas dirinya sudah sangat kurus.
5) Tidak bisa membedakan keinginan dan kebutuhan.
Kebutuhan hidup manusia sebetulnya kan sama: kesehatan, kebahagiaan, keindahan, kenyamanan, dll. Tetapi, keinginan manusia bermacam-macam: ingin baju bagus, ingin mobil bagus, ingin hp bagus, ingin makanan kesukaan, dll. Jika tidak bisa membedakan keinginan dan kebutuhan, maka kehidupan kita bisa menjadi kacau, tapi kita merasa baik-baik saja. Misalnya kamar seperti kapal pecah tapi diisi dengan barang-barang lucu dan baju-baju bagus, atau tubuh sakit-sakitan tapi bukannya makan makanan bergizi melainkan terus memakan yang disuka saja walaupun membuat tetap sakit.
Sekian dulu rangkuman dari apa yang saya baca di awal buku itu. Lain kali saya ceritakan sedikit demi sedikit apa penyebabnya sehubungan dengan proses tumbuh kembang dan pendidikan orangtua. Dan tentu saja saya juga ingin membagi solusinya supaya kita bisa hidup nyaman sebagai manusia dewasa.
Selamat merenung :)
No comments:
Post a Comment