Selamat Malam :)
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan tentang saringan dalam batin yang cenderung menyaring hal-hal positif dan hanya memasukkan hal-hal negatif saja ke dalam pikiran. Ada kalanya fungsi saringan dalam batin kita itu bekerja terlalu giat, sehingga hasilnya adalah kesibukan mencari hal-hal positif dan terus menerus mematahkannya.
Kalau mau membawa contoh dari tulisan sebelumnya tersebut, kita bisa mencoba melihat kasus kolega atau diri sendiri yang membuat kesalahan dalam pekerjaan. Suatu hari, si kolega yang menganggap diri kita salah itu, melapor ke bos tentang ketidakbecusan diri kita. Terjadilah percakapan berikut ini, setelah si kolega itu melapor.
Bos: "Mengapa kamu katakan dia tidak becus kerjanya?"
Kolega: "Karena mengerjakan hal seperti itu saja tidak selesai dalam dua hari."
Bos: "Sudahkah kamu cari tahu, berapa kali dia melakukan kesalahan seperti itu?"
Kolega: (Mengingat bahwa kejadiannya hanya dua kali, tapi dia berpikir lain) "Banyak lah Bos, sehingga itu menunjukkan ketidakbecusan dia."
Bos: "Sudahkah kamu cari tahu, mungkin ada satu atau sedikit kekurangan saja yang menyebabkan dia tidak selesai hari ini?"
Kolega: (Mengetahui bahwa sebetulnya cuma kurang satu dokumen saja) "Masa' dokumen seperti itu saja tidak selesai Bos, gak kompeten."
Bos: "Sudahkah kamu cari tahu, mungkin dia kemarin lagi sakit, sehingga tidak mampu lembur?"
Kolega: (Mengetahui bahwa diri kita pergi ke dokter kemarin) "Dia baik-baik saja kok, Bos."
Bos: "Oke, terima kasih atas laporannya."
Dalam percakapan di atas, si kolega terus menerus mendiskualifikasikan kemungkinan-kemungkinan positif yang terjadi pada diri kita, karena dia hanya melihat kemungkinan negatif yang ada pada diri kita. Pertanyaan-pertanyaan si Bos seharusnya menjadi petunjuk-petunjuk untuk mencari tahu hal-hal yang tidak perlu menjadi bahan pembuat kesimpulan "diri kita tidak becus", tetapi si kolega terlalu sibuk mendiskualifikasi kemungkinan-kemungkinan itu.
Hal yang sama bisa terjadi pada diri kita sendiri. Bisa saja kita gagal dalam suatu pekerjaan lalu menganggap diri kita tidak becus, lalu curhat kepada seorang teman, yang mencoba mengajak kita melihat hal-hal positif, tapi kita sibuk mendiskualifikasi perkataan teman kita itu. Misalnya si teman sudah mengeluarkan kalimat-kalimat "Kan kamu lagi gak sehat" atau "Kan cuma dua kali kamu gagal dalam membuat dokumen itu, sisanya belasan kali kamu baik-baik saja" atau "Wajar lah kamu gagal, kan waktunya sempit. Kolegamu menyelesaikan itu dalam 3-4 hari. Sudah bagus kamu hampir selesai dalam 2 hari."
Apakah kita mau terjebak dalam kesibukan mendiskualifikasikan hal-hal positif dan terus berkubang dalam kesedihan? Apakah kita mau terjebak dalam kesibukan mendebat sahabat-sahabat yang mencoba meniupkan angin positif dan terus berkubang dalam kesendirian dalam rangka mengutuk diri?
Semoga tidak, ya :)
2 comments:
bagaimana dengan orang yg memang tidak mau berubah walau sudah disemangatin dan diajarin berkali2? Mungkin sudah apatis dengan keadaan yang ada ya?
Kita gak tau isi pikirannya ya :) Yang jelas sih kondisi kita sepenuhnya bergantung pada cara berpikir dan tindakan yg kita lakukan sendiri..
Post a Comment