Selamat Malam :)
Ada kalanya kita berpikir secara otomatis, yang dilakukan oleh batin kita, dan akhirnya kita tidak menyadari ada kesalahan dalam cara berpikir itu. Salah satu pikiran otomatis tersebut adalah memasang saringan tanpa disadari. Saringan tersebut memilah hal-hal yang entah kenapa terasa lebih kuat bagi diri kita, sehingga seakan-akan hal itulah yang terjadi, tanpa ada kemungkinan lain.
Kebanyakan hal-hal yang terasa lebih kuat adalah hal-hal negatif. Ini merupakan fakta kehidupan manusia, sehingga manusia yang tidak seperti itu biasanya jadi terlihat aneh oleh pandangan manusia lain. Salah satu buktinya adalah
hasil penelitian psikolog James Averill di tahun 1980 tentang kata-kata emosi dalam kamus bahasa Inggris. Setelah mendapatkan 558 kata, dia menemukan bahwa 62% adalah deskripsi emosi negatif, dan hanya 38% yang mendeskripsikan emosi positif.
hasil penelitian psikolog James Averill di tahun 1980 tentang kata-kata emosi dalam kamus bahasa Inggris. Setelah mendapatkan 558 kata, dia menemukan bahwa 62% adalah deskripsi emosi negatif, dan hanya 38% yang mendeskripsikan emosi positif.
Jika kita terjebak dalam pikiran otomatis tersebut akan suatu kejadian, maka alangkah baiknya kita bisa mendeteksinya. Contohnya, kita mendapati seorang kolega mengalami kegagalan dalam pekerjaan (mari kita lanjutkan contoh kasus dari tulisan sebelumnya dalam seri ini). Kita bisa otomatis berpikir asosiasi negatif, "Kolega saya itu memang tidak becus kerjanya." Kita juga bisa otomatis berpikir disosiasi positif, di mana isinya positif tapi dibuat versi lawannya, "Kolega saya itu harus sepintar si Anu, barulah dia bisa becus bekerja."
Sekarang, tanyalah pada diri sendiri, perlukah kita berpikir seperti itu tentang si kolega? Kapan terakhir kali kita melihat si kolega itu berhasil dalam pekerjaannya? Mungkin saja baru kemarin? Sudah berapa kali kolega kita bekerja lebih baik daripada si Anu? Atau mungkin kita tidak pernah tahu hasil pekerjaan si kolega setiap kali, tapi hanya menyimpulkan dari kasus-kasus yang kita lihat saja?
Ada kalanya, jika kita sendiri yang mengalami kegagalan tersebut, kita jadi berpikir hal yang sama, seperti "Saya memang tidak becus," atau "Saya tidak cukup pintar untuk mengerjakan hal ini." Pikiran-pikiran negatif inilah yang menghalangi kita untuk mencari solusinya. Siapa tahu kita cuma kurang satu dokumen, siapa tahu kita cuma lupa satu hal, siapa tahu kita sedang kurang tidur, dll.
Salah satu solusi untuk melawan saringan-saringan dalam batin adalah mencari lawan dari kondisi yang kita pikirkan. Jika terjadi hal negatif, carilah pasangan hal positifnya. Kalau perlu, buatlah daftar hal-hal positif yang bisa melawan setiap hal negatif yang otomatis terpikir dalam batin kita.
Selamat mencoba! :)
3 comments:
seharusnya memang begitu Neta... Tapi kalau sedang dlm pressure dan appraisal, yg baik2nya itu tidak pernah muncul di permukaan dan akhirnya timbul keyakinan kita memang sejelek itu
hehe.. kalau pakai kata "seharusnya" kesannya mengidealkan. sebetulnya gak perlu seharusnya kok, yg penting bagaimana kita selalu mencoba berlatih :) memang memakan waktu.. karena itu proses..
Ya, semua memang butuh waktu... Mudah2an bisa melakukannya sekarang dan seterusnya :)
Post a Comment