Tuesday, December 14, 2010

Saya dan agama

Selamat Siang :)

Sedikit lagi cerita tentang diri saya. Sebagai orang Indonesia pada umumnya, sejak kecil saya dibesarkan dengan sistem pendidikan agama tertentu. Orangtua saya konservatif, tapi mereka tidak fanatik atau ekstrim. Mereka memasukkan saya ke sekolah-sekolah umum (tak berbasis agama tertentu) baik swasta maupun negeri.

Di SD, SMP, SMA, saya berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai macam agama sehingga saya tidak pernah bermasalah atau punya stereotipe atau prasangka tertentu terhadap agama-agama tertentu.
Ketika saya kuliah, barulah mengalami hal-hal seperti itu. Saya melihat begitu banyak ragamnya manusia Indonesia yang sayangnya menjadi terkotak-kotak karena adanya prasangka-prasangka itu.

Pada masa kuliah itulah saya mempelajari agama yang tertera di KTP saya terlebih dahulu. Saya membaca lebih dari sekedar ritual ibadah reguler yang sebelumnya saya praktekkan waktu SD, SMP, SMA, karena mencontoh orangtua saya. Karena bacaan-bacaan itu, orangtua saya sempat khawatir saya menjadi fanatik atau ekstrim terhadap agama itu. Tetapi, saking banyaknya saya membaca, saya menjadi semakin tahu. Saya jadi tahu sejarah-sejarah, mengapa dari pesan Tuhan yang begitu luhur yang disampaikan pada seseorang di masa lampau dan disebarkan ke manusia lain menjadi terdistorsi, berbelok-belok, bahkan menutupi pesan luhurnya dan malah menonjolkan sisi eksklusif (hanya agama kami yang benar).

Di akhir kuliah, saya menemukan sebuah forum online yang terdiri dari orang atheis sampai orang beragama fanatik dan ekstrim. Karena forum tersebut majemuk, saya mendapat banyak pengalaman. Bukan saja agama yang dianut penghuni forum yang majemuk, melainkan juga kepribadian mereka. Ada yang santun, ada yang kasar, ada yang sombong, ada yang suka menjadi penengah, dll. Saya merasa 5 tahun sudah cukup bagi saya untuk melihat isi pikiran orang-orang beragama. Cukuplah teori itu. Tapi bekal itu membuat saya menjadi lebih openminded dalam menghadapi berbagai macam penganut agama, sehingga saya ingin melaluinya dalam praktek dan pengalaman langsung.

Entah mengapa, saya bertemu seseorang yang beda agama dengan saya, tapi begitu cocok menjadi sahabat saya. Kami menjadi dekat karena bekerja di tempat yang sama. Hal itu tidak hanya terjadi sekali saja. Ketika kontrak kerja habis dan saya pindah kantor, lagi saya menemukan sahabat dari agama lain itu. Dan pada akhirnya, saya bisa menikmati ritual-ritual agama mereka dan memahami bagaimana mereka menggunakan agama mereka untuk kebaikan hidup mereka sehari-hari. Dari situ pula saya melihat bagaimana orang-orang yang seagama dengan KTP saya juga mempunyai pemahaman yang sama, namun juga banyak yang eksklusif dan asal menyalahkan.

Saya sampai dalam tahap benar-benar mencoba berada dalam posisi mereka. Membaca kitab-kitab suci agama mereka, mengikuti ritual-ritual tertentu yang masih bisa saya lakukan dengan nyaman, sampai-sampai kekhawatiran orangtua saya berbalik pada saya akan pindah agama. Berkat bantuan paman di keluarga yang mengerti bahwa saya sedang mencari jalan yang paling cocok dengan saya untuk berkomunikasi dengan Tuhan, maka kekhawatiran orangtua mereda. Saya berhenti membuat mereka khawatir selama KTP saya masih sama dengan mereka. :)

Saya kemudian menjadi lebih ingin tahu terhadap agama-agama lain. Saya pernah menginap di suatu tempat sunyi milik suatu agama, dan saya mengikuti ibadah-ibadah ritualnya dari pagi sampai malam. Keingintahuan saya disambut oleh si pengurus tempat sunyi itu dengan buku-buku yang jarang terlihat di tempat umum. Saya menghargai buku-buku itu dan dari situ saya jadi lebih tahu bagaimana mencari buku-buku agama tersebut yang cocok dengan anjuran si pengurus tempat sunyi. Dari situ saya juga lebih bisa memahami agama tersebut dengan baik.

Pencerahan demi pencerahan terus belanjut, dan akhir-akhir ini saya semakin yakin terhadap suatu konsep yang saya temukan di semua agama. Akan saya bahas di tulisan terpisah.

Sampai lain waktu :)

No comments: