Friday, December 10, 2010

Sekali tidak berarti selalu

Selamat sore :)

Tulisan ini masih ada hubungannya dengan melupakan daerah abu-abu yang saya tulis kemarin. Sesuatu yang terjadi sekali, tidak berarti terjadi berkali-kali. Terima kasih buat dream catcher yang menceritakan suatu kasus yang dia alami.

Ceritanya adalah kejadian di tempat kerja, ketika dia harus bekerja dengan berbagai macam boss. Boss yang satu, melihat kesalahannya dalam pekerjaan sebagai suatu proses belajar, sehingga dia bisa lebih baik kelak. Boss yang lain, melihat kesalahannya dalam pekerjaan sebagai pertanda bahwa dia tidak mampu mengerjakan apa-apa.



Boss yang kedua itulah yang melakukan generalisasi tak berdasar. Sesuatu yang terjadi sekali, tapi dianggap layak menjadi dasar pemikiran, bahwa sesuatu itu selalu terjadi.

Wajar saja manusia melakukan kesalahan, dan saya percaya, manusia punya kekuatan yang besar untuk belajar. Kenapa tidak? Buktinya banyak manusia yang setelah melakukan kesalahan kemudian bisa melakukan pekerjaan yang sama dengan lebih baik lagi.

Saya pernah kesasar waktu naik bus, salah turun halte. Ketika saya harus ke tempat itu kedua kalinya, saya jadi ingat sekali bahwa waktu itu haltenya salah. Saya jadi mengerti bahwa haltenya seharusnya setelah halte yang salah itu. Suatu kesalahan kadang-kadang membuat kita belajar. Saya gak perlu bilang diri saya gak becus naik bus. Sudah berkali-kali naik bus, gak salah turun halte, kan?

Jadi, jangan biarkan orang lain mengatakan bahwa diri kita selalu salah ya. Kita lebih bisa mengerjakan hal-hal yang tidak bisa dibayangkan oleh orang lain :)

5 comments:

Ria Tumimomor said...

Hmmm, sekali lagi ini memang tergantung manusianya dan juga situasi...
Kalau misalnya kita sendiri yg mengalami untuk naik bus itu..., kerugian karena hilangnya waktu mungkin hanya bagi kita aja... (kalau cuman pergi sendirian ya)... Jadi kita gak ada pressure aduh saya harus benar nih naik bus-nya.
Sementara di kantor, terkadang sekali melakukan kesalahan maka pegawai itu akan diingat selalu sebagai orang yang PASTI melakukan salah...
Kalau sudah seperti itu susah kan untuk mengatakan pada diri sendiri...saya tidak sebodoh itu...

Ria Tumimomor said...

eh, lupa bilang... Terima kasih kembali :)

neta said...

Dream catcher, jadi orang lain apakah selalu mengingat si pegawai itu sebagai orang yang PASTI melakukan salah?

Mungkin kita perlu berpikir lagi.. jangan biarkan diri kita tertipu dengan pikiran seperti itu. Dunia tidak seburuk yg kita bayangkan :)

Ria Tumimomor said...

If people have been working in a bad environment too much then the negativity is all in their mind... *sighed*

neta said...

Okeh, nanti saya bahas di tulisan lain. Tentang bagaimana menghindari lingkungan negatif, dan tentang bagaimana menumbuhkan perisai diri untuk menolak energi negatif itu :)