Thursday, December 23, 2010

Sunyi

Selamat Malam :)

Berhubung hari besar salah satu agama besar di dunia, yaitu Natal, akan dirayakan sebentar lagi, saya ingin membahas sesuatu yang berkaitan dengan kerohanian, keTuhanan. Berhubung saya pernah membahas soal konsep yang saya temukan di semua agama yang saya pelajari, maka saya lanjutkan bahasan tersebut.

Mari kita lihat dulu cerita-cerita tokoh-tokoh agama yang dianut oleh banyak orang di dunia. Maaf saya kurang bisa menyarikan referensi tepatnya (nomor ayat atau bab) dari kitab-kitab agama-agama tersebut, karena cerita-cerita tersebut sudah sedemikian dikenal oleh penganut agama-agama tersebut.


Yesus pergi ke padang pasir selama 40 hari 40 malam untuk berpuasa. Buddha pergi bersemedi di bawah pohon Bodhi. Muhammad pergi ke gua Hira setiap malam. Perilaku sosok-sosok dalam agama-agama tersebut mempunyai kesamaan: yaitu mereka pergi menyendiri, menyepi, ke tempat sunyi.

Sunyi. Begitulah yang saya pelajari dari agama-agama. Bagaimana menenangkan jiwa dengan cara mensunyikan pikiran. Bukan cuma sunyi dari suara-suara di sekitar. Bukan sekedar pergi ke tempat yang tidak terjangkau manusia-manusia lain.

Mensunyikan pikiran. Itulah tantangan terbesar setiap manusia. Pikiran yang penuh bertanya-tanya, mengapa begini, mengapa begitu. Pikiran yang membangkitkan perasaan-perasaan bermacam-macam. Pikiran yang 80 persen mungkin tidak perlu dibiarkan menetap, melainkan perlu cepat-cepat diuapkan.

Contoh pikiran sederhana: "Mengapa dia tadi tidak menelpon saya?" bisa berkembang menjadi "Apakah dia marah pada saya?" dan bisa berkembang lagi menjadi "Apakah salah saya?" dan bisa berkembang lagi menjadi "Padahal saya tidak pernah menyakiti hatinya?" dan bisa berkembang terus dan terus. Sayangnya, dia yang dimaksud dalam pikiran tersebut bisa saja hanya lupa, tapi diri kita sudah terlanjur memboroskan energi untuk memikirkannya.

Mau mencoba mensunyikan pikiran? Sudah ada ajarannya dalam agama-agama yang kita anut, yaitu BERDOA. Benar, dengan berdoa, kita terfokus pada Tuhan. Dengan kita mencoba memfokuskan pikiran hanya kepada makna doa tersebut, pikiran akan terjaga. Jika pikiran kita kemana-mana, ulangi lagi doa tersebut sampai kita bisa mengucapkannya dengan pikiran yang tidak kemana-mana. Benar, doa itu perlu diUCAPkan. Dilafalkan, dilisankan, supaya batin bisa dilatih untuk mengikutinya.

Doa-doa sederhana, seperti:
"Tuhan, berilah petunjuk kepada saya."
"Tuhan, tunjukkanlah kepada saya, jalanMu yang baik untukku."
"Tuhan, lindungilah saya dari kejahatan."
"Tuhan, jauhkanlah saya dari rasa khawatir."
"Tuhan, jauhkanlah saya dari orang-orang yang membuat saya ragu."

Ucapkan dengan pasti. Paksa pikiran kita untuk mengikuti gerakan mulut dan lidah kita. Hayati maknanya.

Selamat Natal! Selamat bersunyi bersama Tuhan! :)


2 comments:

Ria Tumimomor said...

Benar juga... sebenarnya kita semua sudah tahu dan bisa memusatkaan diri hanya pada Dia ketika kita berdoa... Tapi teuteup aja kita lupa melakukannya dalam kehidupan sehari2 (kecuali kalau ada maunya)

neta said...

Padahal kalau kita usahakan reguler, efek jangka panjangnya baik untuk kemudahan pengolahan pikiran :)