Tuesday, January 18, 2011

Membuat batas diri

Selamat Malam :)

Tulisan ini juga lanjutan dari rangkuman tentang manusia yang tumbuh dengan baik. Topik bahasan kedua adalah tidak bisa membuat batas diri secara seimbang.

Sejarahnya yang juga berasal dari karakteristik alamiah seorang anak, yaitu: rentan.

Idealnya: manusia yang sudah tumbuh dewasa mampu untuk tidak menyakiti orang lain maupun tidak membiarkan dirinya disakiti oleh orang lain. 

Seorang anak tidak mengetahui cara melindungi dirinya sendiri, sehingga ia tergantung pada pengasuhnya untuk melindunginya. Seorang anak adalah makhluk yang sangat rentan terhadap kekuatan apa saja yang bisa merusaknya, karena ia terlalu percaya pada pihak lain terutama pengasuhnya. 


Dalam sebuah keluarga ideal, orangtua sebagai pengasuh anak tidak melakukan perbuatan yang terlalu melindungi maupun kurang melindungi. Orangtua juga mengajari seorang anak untuk memahami bahwa setiap perbuatan si anak mampu mempengaruhi orang lain baik secara positif maupun negatif. 

Contohnya, Nina yang melewati halaman rumah tetangga sepulang sekolah sehingga merusak sebagian bunga milik Pak Tono. Pak Tono marah terhadap Nina dan berteriak, "Anak kecil sialan! Buruan pergi kalau gak mau gue gampar!" Nina lari pulang ketakutan dan sampai di rumah menangis melihat ibunya. Ibunya malah memarahi Nina bahwa dia berhak mendapatkan perlakuan seperti itu karena dia anak nakal.

Jika Nina berada dalam keluarga ideal, maka ibu Nina akan memahami ketakutan Nina, memahami tangisnya, dan mengatakan pada Nina bahwa Pak Tono tidak layak memperlakukan Nina seperti itu. Si ibu bisa juga pergi ke Pak Tono untuk mengatakan hal itu. Tetapi, si ibu akan menemani si Nina pergi ke Pak Tono untuk meminta maaf, karena memang perbuatan Nina perlu disadari, tidak boleh diulangi lagi.

Jika Nina besar dalam keluarga tidak ideal seperti diceritakan di atas, maka Nina belajar untuk teriak-teriak, menggunakan kata-kata umpatan, atau bahkan kekerasan fisik, ketika sedang punya masalah dengan orang lain. Bisa baca lagi topik kedua di artikel tersebut di atas tentang jenis-jenis "tembok penghalang". Nina juga kesulitan untuk "membuka temboknya" ketika seharusnya dia bisa membiarkan dirinya terlihat lemah di hadapan orang lain, sehingga kesulitan untuk meminta bantuan atau bahkan mengakui jatuh cinta.

Sebaliknya, Nina bisa juga tidak belajar membangun batas diri yang sehat, sehingga lain kali dia membiarkan dirinya menjadi sasaran perlakuan orang-orang yang mengumpat maupun melakukan kekerasan fisik. Ketika temboknya tidak ada, ia juga bermasalah memahami pekerjaan yang bukan tanggungjawabnya dan membiarkan dirinya digunakan oleh orang lain.

Kita patut disayangi dan jangan ijinkan mereka yang menyakiti :)


No comments: