Wednesday, February 9, 2011

Keluarga

Selamat Sore :)

Saya sedang banyak membaca tentang orang-orang muda yang banyak membawa perubahan. Kebetulan, saya sedang banyak bersinggungan dengan orang-orang yang semangat ingin menginspirasi orang lain, dan menganggap semua orang bisa diinspirasi hanya dengan membaca kisah-kisah inspiratif perjuangan orang-orang tersebut dalam meraih kesuksesan.

Berbagai jenis kesuksesan, mulai dari menerima beasiswa, terpilih menjadi "the most", "the best", mendapat penghargaan anu dan anu, menjadi perwakilan untuk sebuah organisasi besar, sampai mendirikan perusahaan yang sukses. Kadang, saya menyayangkan para jurnalis yang terlalu berfokus pada pencapaian orang-orang tersebut. Apakah dengan mengetahui sederet prestasi mereka, mereka yang "tenggelam dan tidak terlihat hasil kerjanya" akan menjadi bangkit karena terinspirasi?


Lalu saya menemukan tulisan-tulisan yang lebih menyentuh secara pribadi orang-orang sukses tersebut. Tulisan-tulisan yang ditulis secara pribadi lewat blog, bukan lewat jurnalis. Dari tulisan-tulisan mereka, saya menemukan hal yang sama. Mereka terutama yang masih muda, sangat ingin membuat orangtua mereka bangga pada dirinya, dan mereka didukung oleh orangtua mereka dalam mencapai mimpi-mimpi mereka. Tidak jarang, orangtua mereka juga menjadi teladan nyata, yaitu melakukan hal-hal nyata yang penuh semangat dan optimisme, menyentuh hidup orang banyak, sehingga otomatis anak-anaknya juga mempunyai mindset yang sama.

Ketika membaca cerita tentang seorang penderita HIV yang tidak pernah minum obat tapi masih 11 tahun hidup aktif hanya berbekal semangat dan dukungan keluarganya, makin yakinlah saya bahwa keluarga terutama orangtua adalah sumber semangat hidup terbesar dalam diri seorang manusia. Mengapa? Karena merekalah orang-orang yang dicintai pertama kali oleh siapapun sejak lahir ke dunia!

Bagi para orangtua, sebelum kalian mempertanyakan mengapa banyak anak muda yang tidak semangat berprestasi, berkelakuan merusak, pasif hanya menunggu kesempatan, maka terlebih dahulu tanyalah diri kalian sebagai orangtua: "bagaimana kita telah memperlakukan anak-anak kita?" Apakah terlalu banyak batasan dalam beraktivitas, jangan ini jangan itu, hanya boleh yang anu? Apakah terlalu banyak celaan terhadap setiap perkembangan anak-anak sehingga menggugurkan semangat mereka dalam mengembangkan dirinya sendiri? Apakah terlalu banyak doktrin bahwa jalan yang berbeda dan tidak mainstream berarti buruk?

Bagi para teman saya yang terkesan "tidak melakukan apa-apa", saya paham kalau kalian sedang berjuang melawan kesakitan-kesakitan dari orangtua atau dalam keluarganya masing-masing. Semoga kalian menemukan jalan untuk mengolah perasaan kalian! Saya sangat memahami, bahwa rasa positif yang ingin kalian tanamkan dalam semangat hidup kalian sehari-hari menjadi mudah pudar jika orang-orang yang kalian cintai tidak sedikitpun mendukung, bahkan mencela.

Bagi para teman saya yang boro-boro punya orangtua yang bisa berfungsi dengan baik, saya hanya bisa berdoa. Semoga kalian bisa mempelajari sejarah hidup, memperbaiki fungsi yang sudah ketularan orangtua, dan kelak akan menjadi manusia-manusia yang bisa merangkul orang lain, menyentuh hati banyak orang, dan membesarkan anak-anak kalian dengan baik. Misalkan tidak mampu pun, paling tidak kalian tidak sendirian dan kalian berhak mengurus diri kalian dengan baik!

Ketika kita menjadi diri kita sendiri, di situlah kemampuan besar akan muncul. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi diri kita sendiri :)


No comments: