Selamat Malam :)
Saya ingin melanjutkan rangkuman dari buku yang saya ceritakan di artikel ini. Yuk langsung kita mulai dari topik pertama: punya rasa rendah diri atau tinggi diri.
Sejarahnya dimulai dari karakteristik alamiah seorang anak, yaitu: berharga.
Idealnya: manusia yang sudah tumbuh dewasa mampu membawa dirinya dari dalam (tanpa terpengaruh pihak luar), dan mampu menempatkan dirinya dalam masyarakat/kemanusiaan.
Di sebuah keluarga yang ideal, karakteristik alamiah ini ditangani dengan baik. Contohnya,
ketika si kecil Nina tidak mau tidur padahal jam sudah menunjukkan waktu tidurnya, si ibu bisa menjelaskan baik-baik. Misalnya, "Ibu paham kamu gak mau tidur sekarang, tapi kamu masih umur 8 tahun, butuh tidur banyak. Besok kamu butuh tenaga cukup. Kalau kurang tidur, besok gampang capek. Boleh-boleh aja tidurnya ntar-ntar. Tapi boleh pilih loh maunya tidur sama siapa. Mau sendirian atau mau ibu temenin?" (atau: "mau ditemenin boneka Dakocan?")
Pada intinya, sisi berharga si anak dijaga dengan cara tidak mengatakan "tidak" terhadap si anak, melainkan dengan "membagi kekuasaan" ditambah aturan-aturan untuk membuat si anak mengerti (proses pengasuhan). Bisa juga ditambah dengan usaha-usaha lembut seperti menggendong si anak ke kamar, mengajaknya pergi ke kamar. Jika anak benar-benar tidak mau, bisa ditunjukkan keesokan harinya bahwa si anak tidak boleh pergi bermain di tempat tetangga sore itu, dihubungkan dengan logika capek karena kurang tidur malam sebelumnya.
Dalam keluarga yang tidak ideal, seorang anak berlatih untuk mengenal harga dirinya bukan karena dirinya sendiri tapi karena pihak di luar dirinya sendiri. Misalnya orangtua yang hanya memuji anak yang mendapat nilai bagus di sekolah. Dalam kasus si Nina di atas, ibunya mengatakan, "Ini sudah peraturan, kamu harus tidur jam 9 malam!" mungkin ditambah dengan menggendong paksa Nina ke kamar. Jika Nina tetap rewel, dia dihukum tidak boleh main di tempat tetangga selama seminggu.
Kesalahan pertama, si ibu tidak menghargai pilihan Nina untuk tidur terlambat. Nina belajar untuk merasa rendah, tidak berharga. Kedua, si ibu menghukum Nina terlalu keras. Hukuman selama seminggu tentu saja tidak proporsional dan tidak ada hubungannya dengan terlambat tidur semalam saja. Nina belajar untuk merasa tertekan setiap kali melakukan kesalahan. Secara umum, Nina belajar bahwa harga dirinya di depan orangtuanya bergantung pada jenis perilakunya (menyenangkan orangtuanya atau tidak).
Manusia dewasa (yang tidak ideal) memiliki kesulitan membawa diri. Perasaan senangnya banyak timbul karena dipuji, perasaan sedihnya muncul dengan derasnya ketika dicela, bahkan menerima kritik pun tak mampu. Caranya melihat manusia adalah dengan "lebih baik" atau "lebih buruk", dan cenderung membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.
Mari kita merenung. Bagaimana masa kecil kita? Jika kita mampu menyadarinya bahwa masa kecil kita tidak ideal, maka sebagai manusia dewasa tentu saja kita tidak ingin terus-menerus memahami harga diri yang salah kaprah.
Kita berhak menentukan harga diri kita sendiri :)
2 comments:
postingan bagus (Cant say the real reason as it is too personal)
Kalau saya lihat bukan personal tapi cultural. Banyak terjadi di budaya kita :)
Post a Comment