Selamat Siang :)
Di dunia ini, tidak ada yang hitam mutlak. Tidak ada juga yang putih mutlak. Kalau kita mengkaitkannya dengan baik/buruk saja, sudah terlihat dengan jelasnya, bahwa tidak ada sesuatu yang baik tanpa keburukan sedikit pun, dan tidak ada sesuatu yg buruk tanpa kebaikan sedikit pun.
Apalagi kalau kita mengkaitkannya dengan selera, sikap, gaya, pilihan, dll yang semuanya tergantung manusia yang melakukannya. Begitu banyak ragamnya.
Saya ingat seorang kawan yang
aktif mengadakan ibadah malam minggu. Kawan ini mengatakan, "daripada kita bermain-main saja, lebih baik beribadah." Saya sungguh menyayangkan kata-katanya. Karena seseorang yang tidak beribadah di malam minggu kan bukan berarti dia sedang main-main kan? Bisa saja dia sibuk mengurus orangtuanya atau adiknya?
Selain mengkaitkannya dengan orang lain, kita juga bisa mengkaitkannya dengan bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Kadang-kadang, pikiran itu tidak keluar dalam bentuk kata-kata, tapi cuma berputar di dalam pikiran kita saja.
Saya pernah membuat satu kesalahan dalam pekerjaan saya. Lalu secara otomatis saya berpikir bahwa diri saya adalah orang yang tidak mampu melakukan apa-apa, karena kesalahan itu. Padahal, membuat kesalahan adalah wajar, apalagi cuma satu kali. Tidak mungkin seorang manusia hanya membuat kesalahan saja dalam hidupnya. Pasti ada kebenaran-kebenaran yang dilakukan. Ketika orang lain yang membuat kesalahan, saya juga tidak perlu menjadi sombong, karena saya pernah juga membuat kesalahan-kesalahan.
Seperti itulah yang saya maksud dengan berpikir hitam-putih. Padahal, begitu banyak daerah abu-abu, dengan tingkat keabuan yang berbeda-beda.
Sebelum kita mengeluarkan pikiran-pikiran yang memutihkan hal-hal di luar hitam, atau menghitamkan hal-hal di luar putih, lebih baik kita enyahkan pikiran itu. Kita bisa mempertanyakan pikiran-pikiran itu dengan berbagai macam kemungkinan. Tantanglah cara berpikir kita, supaya kita terbiasa untuk melihat segalanya dengan berbagai macam kemungkinan.
Dunia tidak seburuk yang kita kira :)
Di dunia ini, tidak ada yang hitam mutlak. Tidak ada juga yang putih mutlak. Kalau kita mengkaitkannya dengan baik/buruk saja, sudah terlihat dengan jelasnya, bahwa tidak ada sesuatu yang baik tanpa keburukan sedikit pun, dan tidak ada sesuatu yg buruk tanpa kebaikan sedikit pun.
Apalagi kalau kita mengkaitkannya dengan selera, sikap, gaya, pilihan, dll yang semuanya tergantung manusia yang melakukannya. Begitu banyak ragamnya.
Saya ingat seorang kawan yang
aktif mengadakan ibadah malam minggu. Kawan ini mengatakan, "daripada kita bermain-main saja, lebih baik beribadah." Saya sungguh menyayangkan kata-katanya. Karena seseorang yang tidak beribadah di malam minggu kan bukan berarti dia sedang main-main kan? Bisa saja dia sibuk mengurus orangtuanya atau adiknya?
Selain mengkaitkannya dengan orang lain, kita juga bisa mengkaitkannya dengan bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Kadang-kadang, pikiran itu tidak keluar dalam bentuk kata-kata, tapi cuma berputar di dalam pikiran kita saja.
Saya pernah membuat satu kesalahan dalam pekerjaan saya. Lalu secara otomatis saya berpikir bahwa diri saya adalah orang yang tidak mampu melakukan apa-apa, karena kesalahan itu. Padahal, membuat kesalahan adalah wajar, apalagi cuma satu kali. Tidak mungkin seorang manusia hanya membuat kesalahan saja dalam hidupnya. Pasti ada kebenaran-kebenaran yang dilakukan. Ketika orang lain yang membuat kesalahan, saya juga tidak perlu menjadi sombong, karena saya pernah juga membuat kesalahan-kesalahan.
Seperti itulah yang saya maksud dengan berpikir hitam-putih. Padahal, begitu banyak daerah abu-abu, dengan tingkat keabuan yang berbeda-beda.
Sebelum kita mengeluarkan pikiran-pikiran yang memutihkan hal-hal di luar hitam, atau menghitamkan hal-hal di luar putih, lebih baik kita enyahkan pikiran itu. Kita bisa mempertanyakan pikiran-pikiran itu dengan berbagai macam kemungkinan. Tantanglah cara berpikir kita, supaya kita terbiasa untuk melihat segalanya dengan berbagai macam kemungkinan.
Dunia tidak seburuk yang kita kira :)
4 comments:
"daripada kita bermain-main saja, lebih baik beribadah."
Hmm.. in a way sih gua bisa ngerti kata2nya temen elo ituu.. tentu aja mungkin emang ada yang berhalangan hadir karena ada keperluan lain yang lebih mendesak, seperti yang elo bilang : merawat ortunya yang sakit.
Cuman mungkin dia melihatnya dari sisi : kita ini udah terlalu lama menghabiskan waktu untuk bersenang2, jadi ngga ada salahnya khan kalo sekarang itu lebih fokus dalam beribadah?
And gua setuju.. ngga semua hal di dunia ini hanya terdiri dari hitam dan putih aja, banyak yang bergerak di area abu2, tapi bukan berarti harus mengabu2kan semuanya, karena untuk beberapa hal tertentu yang emang penting, maka hitam harus tetap menjadi hitam sementara putih tetap menjadi putih dan bukan membiarkannya menjadi abu2.
Hehe.. bukan itu yg saya sorot, tapi mengapa dia bisa dengan yakin mengatakan bahwa yg tidak beribadah dengan kelompok dia berarti lagi bermain-main ("daripada"). Bisa saja orang itu lagi beribadah dengan kelompok lain, atau melakukan hal-hal penting lainnya seperti mengurus orangtua.
Atau bisa dilihat dari konteksnya. Jika tidak ada prioritas lain, beribadah dengan kelompok ibadah jelas baik mutlak. Tapi jika ada urusan lain, baiknya tidak mutlak lagi.
Semoga jelas ya :)
intinya apa yang kita pikir ttg orang lain itu belum tentu bener... Masalahnya kita suka mikir kalau kita gak melakukan ini karena begini, maka pastinya orang lain ya begitu.
Soal pekerjaan itu buat saya lain lagi... Ada atasan yang bisa bijak bilang well you made mistake... Learn from it and don't do it again. Ada yang bilang, you are worthless... I can't trust you with anything.. Makanya jadi berasa gak bisa apa2...
Betul dream catcher, ada orang-orang yg emang ngomong yg hitam-putih gitu ke orang lain, seperti kasus atasanmu ke kamu.
Kalau sudah begitu, tugas kita lebih berat lagi, gimana supaya kata-kata yg hitam-putih itu gak masuk sampai terolah ke dalam pikiran kita :)
Post a Comment